Menjadi Pembully Itu Tidak Keren, Percayalah Saya Tahu Rasanya by Anonim
Saya bingung sebenarnya harus mulai dari mana untuk berbicara soal bullying. Saya adalah salah satu orang yang paling membenci tindakan bullying apapun bentuknya baik verbal, nonverbal sampai tindakan cyber bullying. Saya sendiri hampir pernah menjadi korban bullying karena lingkungan saya bebas dari hal itu. Tapi rasa benci saya muncul terhadap bullying karena saya adalah salah satu pelakunya. Kok bisa?
Saya sangat menyesal pernah menjadi pelaku bullying. Percaya atau tidak, saya sudah mulai mem-bully teman, pada saat masih duduk di
bangku sekolah dasar. Bayangkan anak sekolah
macam apa saya ini, sehingga di umur yang masih sangat mudah sudah mampu
mem-bully orang lain?
Well, ini bukan tanpa sebab. Saya lahir di keluarga yang
kurang harmonis. Adanya masalah keluarga membuat saya harus sampai pindah
sekolah dasar sebanyak empat kali. Awalnya saya sekolah di Jakarta lalu pindah
ke Padang, ke Batam dan akhirnya kembali ke Jakarta. Saya menjadi anak yang
pemurung dirumah karena keadaan keluarga yang kurang rukun. Tapi ketika diluar
rumah (pada saat SD) saya akan menjadi
anak yang cukup cerewet dan mudah bergaul. Saya merasa lebih baik saat diluar
rumah, entahlah.
Saya bersekolah di salah satu SD Negeri di Tangerang. Saat itu sebagai anak
yang baru pindah, saya mudah mendapatkan teman karena mudah bergaul. Dalam
hitungan hari saya bisa dekat teman-teman dalam kelas. Waktu itu, saya
tergabung dalam sebuah geng yang terdiri dari sepuluh orang, ada laki-laki dan
perempuan juga. Ketika kami naik kelas lima, ada anak ‘baru’ di kelas saya.
Sebenarnya bukan anak baru karena mereka memang tidak naik kelas, jadi pada
waktu itu menjadi teman kelas kami. Entah setan macam apa yang merasuki saya
benar-benar tidak suka dengan dua teman ‘baru’ kelas kami ini. Bukan tanpa
alasan, mereka berdua punya sifat yang sombong sekali menurut saya. Salah satu
diantara mereka pernah mengaku mau pindah keluar negeri tapi tidak jadi dan
malah tidak naik kelas. Sementara yang satunya, kemayu dan lemah gemulai gitu.
Jujur saya gemas sekaligus tidak suka dengan orang-orang yang lemah begitu. Hal
yang membuat saya semakin sebal adalah, mereka berdua suka menyontek dan tidak
tahu diri. Mereka suka mondar mandir di kelas untuk cari contekan ketika ujian,
padahal tahu kalau sekelas tidak ada yang suka dengan mereka.
Nah, pertanyaannya bagian mana saya mem-bully
mereka? Jadi mereka berdua ini duduk semeja dan didepan dekat dengan pintu
masuk kelas. Inipun karena disuruh oleh guru. Ketika masuk kelas dan melewati
meja mereka, saya akan menendang meja mereka sampai mereka marah dan menangis,
tapi waktu itu saya tidak sendiri karena rata-rata teman dalam kelas melakukan
itu. Pernah saya menyembunyikan sepatu salah satu dari mereka di kamar mandi
dan baru ditemukan ketika keadaan sekolah sudah sepi. Itupun salah satu teman
saya bilang ke mereka soal sepatu tersebut karena tidak tega. Saya juga suka
bertindak seenaknya dengan mereka, minta dibelikan jajan mereka.
Setelah berselang cukup lama dan tiba pada saat Ujian Nasional entah
bagaimana ceritanya kami sudah akrab dan punya hubungan yang baik. Khusus hal
ini saya lupa bagaimana ceritanya.
Ternyata mem-bully orang lain masih saya lakoni lagi ketika berada di bangku sekolah menengah pertama. Waktu itu saya bersekolah di salah satu sekolah swasta yang berkualitas. Kebetulan karena sekolah saya ini sekolah Islam, maka setiap hari kami akan menghafal hadist-hadist dan penerapan ke Islama-an. Saya masih suka murung dirumah dan menjadi pribadi yang aktif ketika diluar rumah. Di SMP saya juga punya geng yang terdiri dari empat orang termasuk saya. Teman-teman geng saya ini adalah murid teladan dan berpretasi di sekolah. Ada yang juara lomba cerdas cermat di bidang matematika, lalu teman saya yang satunya ikut paduan suara dan sudah tampil dibanyak tempat dan mengharumkan nama sekolah dan yang satunya lagi jadi primadona di sekolah karena punya badan yang bagus dan cantik. Lalu, saya? Saya bergabung dengan OSIS namun menjadi salah satu anggota yang tidak bertanggungjawab. Saya jarang ikut rapat, lalu kalau sholat Dhuha berjamaah lebih sering kabur. Saya memilih untuk ikut kegiatan paskibraka yang menurut saya lebih penting dibandingkan rapat OSIS. Alasan saya malas untuk ikut rapat OSIS karena jabatan saya adalah seksi paskibraka yang memang bertugas untuk mempersiapkan upacara bendera setiap hari senin atau upacara bendera untuk peringatan hari nasional lainnya.
SMP adalah masa yang paling punya banyak cerita. Saya menjadi anak yang
nakal dan suka berusaha untuk kabur dari sekolah. Terkadang tas saya titipkan
ke tukang siomay tapi ketahuan oleh satpam sekolah. Saya juga suka sekali bolos
bimbingan belajar untuk Ujian Nasional. Awalnya saya malah ingin dimasukan ke
sekolah pesantren, tapi saya nego sehingga masuk ke sekolah ini. Orangtua saya
memang cukup taat beragama, meskipun sering berkelahi.
Geng-an saya ini tidak suka dengan satu teman kami dikelas. Badannya kecil
tapi suara dia cempreng sekali dan kalau bicara suka berisik sekali dan bagi
kami itu menganggu. Anaknya juga cengeng, kalau dibecandain pensilnya diumpetin
langsung nangis. Nah, saya termasuk orang yang suka iseng dengan manusia
seperti dia. Semakin mudah dia menangis semakin senang saya, karena seru ajah
gitu. Selain itu, salah satu alasan yang buat kami menjadi tidak suka dengan
dia karena dia terkesan sok cantik.
Sudah lama kesel sama dia dan tingkahnya, maka kami memutuskan untuk
menyembunyikan tasnya di lemari pada saat jam olahraga. Kebetulan waktu itu
saya dan satu teman saya tidak ikut olahraga karena kami tidak bawa baju,
akhirnya ide ini muncul dan kami sembunyikan tasnya di lemari kelas, dikunci
dan kuncinya kami simpan. Singkat cerita dia menangis karena tasnya tidak
ketemu. Lalu kami mulai digeledah satu-satu, untuk tahu barangkali ada yang
simpan kuncinya. Tapi, mereka kalah cepat karena saya dan teman saya ini sudah
daritadi menyimpan kunci itu di meja guru kami. Kami sejahat itu.
Selang beberapa hari, saya dan teman satu geng-an bolos ikut kelas bahasa
Arab karena gurunya galak. Kami memilih untuk makan mie ayam. Ketika kami kembali
ke kelas, tas kami sudah tidak ada di kursi masing-masing, ternyata sudah
dipindahkan ke ruangan kepala sekolah. Akhirnya kami berempat ditegur dan
diberi peringatan untung tidak sampai orangtua dipanggil. Mulai saat itu kami
tobat menjadi nakal dan berhenti untuk melakukan hal buruk ke orang lain.
Hal ini tidak banyak diketahui oleh orang lain. Kalau diingat-ingat soal
masalah ini saya merasa sangat bersalah. Saya menyesal sudah melakukan tindakan
tidak terpuji seperti ini dan malah saya menikmatinya dulu.
Bagi siapapun yang pernah atau sedang melakukan tindakan bully, serius itu tidak bermanfaat sama
sekali. Hanya membuat kalian bahagia sesaaat, setelah itu kalian akan merasa
menyesal seumur hidup. Sejak masuk SMA saya mulai memperbaiki diri dan
perlahan-lahan sifat ini akhirnya hilang. Saya menyadari bahwa tindakan ini
tidak baik dan pasti godaan setan juga. Setiap hari saya terus memperingati
diri sendiri bahwa saya bukan orang jahat dan saya tidak ingin menjadi jahat.
Saya takut perbuatan saya akan merugikan orang lain.
Di usia yang ke 24 tahun ini, saya betul-betul menyadari pentingnya
kerjasama orangtua dalam membentuk karakter anak. Saya tidak menyalahkan orang
tua saya yang sibuk membela ego mereka masing-masing ketika saya benar-benar
membutuhkan pendampingan tapi saya hanya menyayangkan hal ini saja. Tapi bagi
saya, berpisah adalah hal yang terbaik untuk kedua orangtua saya dibandingkan
harus melihat mereka bertengkar di depan mata saya, karena ini merusak mental
saya juga.
Bagi saya, tidak ada anak yang nakal. Yang ada hanya orangtua yang kurang
sabar untuk menghadapi anak. Sedikit-sedikit bentak, main tangan. Mencoba
menyelesaikan masalah dengan singkat tanpa paham apa yang dibutuhkan anak atau
mencoba melakukan pendekatan pada anak.

Comments
Post a Comment