Senioritas, Penyakit Lama by Anonim
Bullying atau tindakan membully bukan merupakan hal asing bagi
kita. Sebab, selain banyak kasus bully yang terjadi di sekitar kita terkadang
kita sendiri merupakan korban bullying. Saya salah satunya.
Hal ini terjadi sekitar 10 tahun lalu, ketika saya masuk
Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan masuk asrama sekolah. Saya merasa sangat
senang ketika pertama kali sampai di asrama karena memiliki banyak teman dan
saya bisa belajar menjadi pribadi yang lebih mandiri.
Ternyata kehidupan di asrama tidak selamanya nyaman
seperti yang saya kira. Saya mulai
merasa tertekan, bukan hanya karena beda dari kenyataan yang saya
idamkan tapi kehidupan di tempat itu menganut sistem senioritas dan saling
balas dendam. Tindakan dan gerak-gerik yang kita lakukan sebagai junior akan
selalu diawasi oleh kakak kelas, baik di asrama maupun di sekolah. Jika ada
anak atau junior melakukan tindakan yang tidak berkenan di hati mereka, maka
orang tersebut akan diadili pada saat jam makan bersama.
Seperti sudah saya bilang diawal bahwa saya merupakan
korban bully dan kejadian ini tepat ketika saya di kelas 1 SMP. Semuanya
bermula ketika ada kegiatan ekstrakulikuler yang melibatkan semua kelas untuk
mengikuti lomba-lomba yang sudah dirancang oleh sekolah, termasuk lomba bola
voli. Saat itu, pertandingan kelas saya VII A vs VIII D dalam lomba voli dan
hasilnya kelas kami kalah. Melihat kelas kami kalah, ada satu teman saya dari
kelas lain mengejek kelas kami sebab dalam perlombaan olahraga kelas kami tidak
pernah menang. Saya tidak terima dengan perkataan tersebut, akhirnya saya
bilang ke teman saya ini bahwa bukan masalah besar bagi kami untuk kalah dalam
pertandingan olahraga karean dalam perlombaan non-olahraga kelas kami selalu
unggul (meingat pada saat semester satu, kelas VII A berhasil masuk 10 besar
sekolah). Ketika mengatakan hal ini, saya tidak merasa ada yang salah karena
itu kenyataannya. Kebetulan, pada saat kalimat itu saya sampaikan ke teman yang
mengejek kelas kami, ada salah satu teman asrama yang mendengar itu dan
membertihukannya kepada senior. Cerita ini diubah dan kesannya
dilebih-lebihkan.
Pada saat jam makan siang, lonceng dibunyikan dan kami
berkumpul di ruang makan. Salah satu senior yang dianggap paling berkuasa
mengatakan di hadapan semua orang bahwa saya mengatai semua senior saya bodoh.
Hal ini sontak membuat semua senior marah dan akibatnya saya disuruh untuk maju
kedepan. Jujur, saya merasa tidak nyaman apalagi harus berdiri di depan semua
orang, diadili dan disaksikan oleh semua penghuni asrama. Waktu itu saya
dikata-katai dan dimarahi dan yang paling fatal ketika salah satu senior saya
mengancam dengan menodongkan pisau ke leher saya. Untung saja waktu itu ada
yang menegur sehingga tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.
Kejadian ini tidak saya adukan ke pembina asrama. Saya
memilih untuk cerita secara jujur kepada kedua orangtua tapi saya meminta agar
mereka tidak melaporkan kejadian ini kepada pembina. Sebab, jika ketahuan
mereka melakukan hal ini, para senior akan dihukum dan saya akan kembali
terkena hukuman dari mereka, dibully dan seterusnya. Orangtua saya merasakan
ketakutan tersebut sehingga mereka berusaha untuk menutupi. Harus saya akui
setelah kejadian itu saya merasa tertekan, tidak bebas untuk menjalani kegiatan
dan kehidupan saya disana bahkan saya ingin waktu cepat berlalu agar segera
naik kelas IX dan merasakan kebebasan.
Berdasarkan pengalaman ini, saya mengharapkan kepada
pembaca khususnya yang sedang di asrama tolong tingglakan kebiasaan senioritas
maupun balas dendam. Sebab hal ini akan menjadi kebiasaan turun temurun dan
malah membuat banyak orang menderita. Selain itu bagi siapapun yang pernah
dibully selain kita harus kuat, kita juga harus memiliki sifat rendah hati dan
pemaaf. Hal ini agar hati kita menjadi
damai dan tidak memikirkan balas dendam.

Comments
Post a Comment