Bunuh Diri Tidak Akan Menyelesaikan Masalah
Selamat pagi.
Maaf sebelumnya, saya tidak tidak
berkenan untuk memberitahukan identitas karena cerita ini terlalu ekstrem jadi
mungkin saja akan ada pertanyaan lanjutan yang tidak ingin saya dengar. Jadi,
semoga kalian menikmati cerita ini.
Saya adalah anak tunggal, tapi kedua
orangtua saya memilih untuk mengadopsi seorang anak lagi yang akhirnya menjadi
adik saya sampai saat ini. Kami semua sayang dengan dia, bahkan saya sudah
menganggap dia adalah adik kandung saya sendiri. Saat ini saya sudah bekerja di
sebuah agency, sebagai penulis
konten. Saya juga menjadi penulis lepas untuk beberapa majalah, tapi saya lebih
aktif menulis di blog pribadi. Saya menyukai menulis karena dengan hal ini saya
banyak belajar soal hidup. Jauh sebelum seperti sekarang, saya mengalami
depresi yang cukup berat dan rasa malu
akan diri sendiri, terlebih dipermalukan oleh orang sekitar yang bahkan tidak
benar-benar dekat dengan saya.
Menjadi anak pertama dalam keluarga
tentu bukan hal yang mudah, keluarga kami berkecukupan namun bagi saya ada saja
yang kurang. Setelah lulus kuliah saya tidak langsung mendapatkan pekerjaan,
menganggur sekitar beberapa bulan sementara teman-teman dekat saya sudah mulai
bekerja. Awalnya saya merasa bahwa ini adalah sebuah siklus yang mudah, bahwa
suatu saat saya akan dapat kerjaan yang baik di tempat yang baik.
Tujuan saya bekerja sama seperti orang
lain yaitu untuk mendapatkan uang. Saya berniat untuk menyekolahkan adik saya,
jika memang tidak mampu saya akan membantu dalam hal uang jajan. Namun waktu
itu keadaan sepertinya terlalu berat, keluarga kami ditimpa musibah
berturut-turut, kami kehabisan uang bahkan sampai harus berhemat, belum
tuntutan saya yang masih bergantung kepada orangtua, kebutuhan adik saya dan
uang untuk keberlangsungan hidup keluarga juga banyak. Terlalu banyak
pengeluaran. Kebetulan orangtua saya adalah pribadi yang tidak memaksa saya
untuk dapat pekerjaan secara instan, mereka ingin saya menjalani semua proses
dengan baik dan tetap semangat.
Hal yang saya sadari berubah ketika
menjadi pengangguran adalah saya mulai terasing secara pelan-pelan. Teman dan
sahabat saya sudah punya dunia baru dan pekerjaan mereka sudah punya prioritas
yang lain. Terkadang saya berpikiran buruk, kemana mereka ketika saya merasa
seperti ini. Ada beberapa dari mereka yang sering melihat saya mengeluh entah
secara langsung atau tidak namun seakan tidak peduli. Saya mulai malas mengikuti
acara kumpul-kumpul karena mulai minder. Apa yang bisa saya banggakan di depan
mereka? Sementara mereka akan ramai bercerita soal merk tas, kosmetik, gaji dan
sebagainya. Apa yang bisa saya ceritakan, sementara kehidupan saya hanya stuck
seperti in? Sementara mereka sudah punya ratusan kisah jalan-jalan keluar kota,
teman kantor yang menyebalkan dan lain sebagainya. Ketika saya mulai dengan
kisah pilu mengenai saya yang belum diterima kerja, mereka akan diam dan mulai
tidak memberikan respon. Padahal saat itu saya butuh jawaban, saya butuh untuk
didengarkan. Saya mulai membangun rasa dan pikiran bahwa ketika dulu jauh
sebelum seperti sekarang rasanya saya hampir cukup banyak menanyakan keadaan
mereka ketika ada kode yang mereka sampaikan kalau mereka sedih. Saya tanya,
tapi sekarang hal itu tidak menjadi perhatian mereka. Ada juga yang menganggap
saya berlebihan dan tidak mengerti dengan kehidupan kerjaan mereka. Lalu,
akhirnya saya benar-benar memutuskan untuk keluar dari lingkungan itu dan putus
hubungan, karena saya merasa perlahan-lahan ada dukungan yang hilang. Saya
tidak mendapatkan apa yang saya butuhkan, saya merasa asing dengan dunia yang
saya cintai. Saya bahkan mulai merasa tidak nyaman dengan mereka.
Bunuh diripun terlintas di benak saya. Beberapa
kali saya mencoba bunuh diri misalnya dengan merendam tubuh dalam bak sampai
kedinginan, minum minuman yang kedaluwarsa, minum obat yang banyak, tidak makan
sekitar tiga hari sampai lemas. Terakhir saya benar-benar berniat untuk
memotong nadi saya, karena cara membunuh dari dalam tidak ada yang berhasil.
Waktu itu alasan saya ingin bunuh diri paling besar adalah lingkungan. Saya
lelah dengan kenyataan bahwa saya pengangguran, saya terbelakang, tidak punya
teman yang peduli yang menghubungi saya hanya ketika mereka butuh, keluarga
sedang banyak masalah, saya kehilangan semangat hidup dan akhirnya merasa bahwa
saya hanya menjadi beban keluarga.
Saya ingat betul hari ketika saya ingin
bunuh diri dengan cara memotong nadi, ada sebuah kejadian yang membuat saya
merasa terluka. Saya ikut pertemuan keluarga besar salah satu keluarga, saya
panggil dia tante X datang mendekat saya dan tanya apa saya sudah kerja atau
belum, lalu saya jawab belum. Akhirnya dia bilang mungkin karena saya malas dan
terlalu pemilih, saya bilang jelas saya harus pilih sesuai bidang yang saya
bisa tidak asal saja. Berakhir pada tante X yang bilang kalau saya ini sekarang
sudah liar, tidak tahu urus badan kayaknya sudah tempel sana dan sini, intinya
tidak terurus makanya mana ada perusahaan yang mau. Saya dengar itu semua,
kebetulan mama dan bapa tidak ikut karena berhalangan. Si tante X ini akhirnya
cerita kalau anak-anaknya itu sukses dan mereka kerja keras, mereka jaga badan
mereka sehingga kelihatan baik dan rapih. Saya tahu secara jelas itu sedang
membandingkan diri saya dengan anaknya. Saya sedih dan benar-benar malu. Malamnya,
saya memutuskan untuk chatting dengan salah satu teman yang ternyata chat itu berujung
kepada dia yang menasehati saya untuk cari kerja. Saya dianggap beban untuk
orangtua, saya dibilang tidak menyayangi kedua orangtua karena masih saja
pengangguran bahkan saya dibilang hanya menghabiskan uang orangtua. Jujur, saya
memang merasa seperti itu tapi rasanya lebih sakit dan menikam jantung ketika
hal ini disampaikan oleh orang lain.
Saya putus asa, saya kalut dan gelap
mata. Tepat sedetik sebelum saya mau melakukan bunuh diri, bapa saya main gitar
di ruang tamu dan menyanyikan lagu gereja kesukaan saya. Isi lagu tersebut
bahwa Tuhan mengerti semua persoalan yang ada, Dia tidak akan membiarkan kita
berjalan sendiri bahwa dia akan selalu memegang janjinya pada kita. Saya sempat
terpaku dan berusaha untuk kembali fokus untuk melanjutkan aksi ini, tapi mama
saya tiba-tiba bicara kepada bapa saya, beliau mencari saya karena ada es buah
yang dibeli dari dua hari sebelumnya masih ada di kulkas tidak saya sentuh.
Beliau juga bicara kepada bapa saya bahwa saya kelihatan murung sekali
akhir-akhir ini mungkin karena patah hati. Setelah itu mereka berdua tertawa,
mungkin merasa lucu karena anaknya sudah besar.
Mendengar suara tawa kedua orangtua,
saya langsung lemas lalu berjongkok. Pisau masih saya pegang, tangan saya masih
baik-baik saja tapi tangisan saya pecah. Kedua orangtua langsung lari ke kamar
saya dan mendapati saya dalam keadaan menangis begitu kencang sambil memegang
pisau. Mama saya berteriak histeris, bapa langsung mengambil pisau itu dari
tangan saya. Mama berlari memeluk saya dengan erat dan ikut menangis. Bapa
membantu saya dan mama untuk duduk di tempat tidur. Saya masih menangis, tapi
di sela menangis saya meminta maaf karena sudah berpikiran untuk melalukan
tindakan yang buruk, tindakan yang bukan saja merugikan saya tapi kedua
orangtua saya, adik dan keluarga saya.
Saya menceritakan semua hal yang saya
rasakan, yang saya alami semuanya saya sampaikan. Saya juga meminta maaf karena
tidak percaya kepada kedua orangtua saya untuk menyampaikan hal ini karena saya
takut keadaan mereka makin terdesak.
Mereka memeluk saya dan bilang bahwa saya adalah karunia yang terbaik yang
pernah mereka punya. Mereka tidak pernah merasa menyesal memiliki saya dan adik
saya. Kami berdua adalah hidup mereka, apapun
yang terjadi kami, saya dan adik saya adalah hal yang akan selalu mereka
lindungi. Mendengar hal itu saya kembali menangis dan meminta maaf, saya merasa
sudah berdosa karena mencoba untuk bunuh diri. Saya kalut dan tidak
mengandalkan Tuhan dalam hidup. Saya hanya hidup atas cemoohan orang-orang
sekitar, saya terlalu memikirkan hal buruk yang orang lain katakan tentang
saya. Saya hanya peduli dengan kesakitan bukan dengan kebahagiaan. Adik saya
yang baru pulang les, ketika tahu kejadian ini langsung ke kamar saya dan
bilang bahwa dia bangga punya kakak seperti saya, walaupun saya terkadang jahat
namun dia tetap menyayangi saya karena dia yakin hanya saya dan kedua orangtua
kami harta yang dia punya di dunia ini. Saya langung memeluk adik saya dan
menciumnya, meminta maaf dan akhirnya malam itu saya tidur ditemani oleh dia. Mungkin
karena orangtua takut saya akan bertindak yang macam-macam lagi.
Keesokan paginya, saya bangun lebih
cepat dari biasanya dan semua orang dirumah masih tidur, akhirnya saya putuskan
untuk menonton video di youtube. Entah
kebetulan atau tidak, saya menonton sebuah video tentang seorang anak yang
harus kehilangan kakinya, namun berusaha untuk menggunakan kaki palsu,
beradaptasi dan akhirnya menjadi sempurna kembali. Sekitar tiga video dengan
kisah-kisah menyentuh seperti itu muncul di timeline
saya. Saya seharusnya lebih banyak bersyukur, seharusnya lebih mau memahami dan
sabar serta tahan uji. Tidak memaksakan kehendak dan terus berjuang.
Pagi itu saya dibuatkan cokelat hangat
oleh bapa, beliau tahu kesukaan saya. Bayangkan jika semalam saya benar-benar
bunuh diri, maka pagi ini bisa jadi hari paling menyakitkan untuk mereka.
Senyum bisa hilang digantikan duka yang tidak terbendung, saya hanya akan
menciptakan luka dalam kehidupan mereka. Tidak ada lagi cokelat manis, yang ada
kehidupan berlanjut dengan rasa pahit dan sepi.
Saya bersyukur diingatkan oleh Tuhan
lewat suara gitar dan lagu bapa malam itu.
Saat ini saya sudah bekerja dan sudah
benar-benar pulih. Saya merasa terlahir kembali lewat kejadian tersebut, saya
menjadi manusia yang lebih baik dan penuh rasa syukur dan cinta kasih. Saya
percaya kekuatan Tuhan dan rancangannya adalah hal yang terbaik.
Ini saya yang baru, penikmat cokelat
hangat buatan bapa setiap pagi.
Salam!

Comments
Post a Comment